Archive for category Seni Topeng Malang

Nilai Spiritual dalam Wayang Topeng Malang

Gerakan lemah gemulai dengan wajah tertutup topeng dan aksesori yang beragam diiringi alunan gamelan seolah-olah mampu membawa penikmat kembali ke suasana masa lampau. Tari tradisional yang sarat nuansa spiritual ini menggambarkan nilai-nilai kehidupan yang luhur serta nilai-nilai tentang keselarasan hidup dengan alam dan dunia gaib. Itulah yang pertama kali tersirat dalam satu di antara kesenian kebanggaan Kota Malang, Jawa Timur, tari wayang topeng atau tari topeng.

Wayang topeng Malang adalah sebuah kesenian kuno yang usianya lebih tua dari keberadaan Kota Apel ini. Itulah sebabnya, kesenian ini tak dapat dipisahkan dari perjalanan sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa Timur. Dalam catatan sejarah, topeng telah dikenal semenjak zaman kerajaan tertua di Jatim yaitu Kerajaan Gajayana (760 Masehi) yang berlokasi di sekitar kota Malang. Tepatnya, kesenian ini telah muncul sejak zaman Mpu Sendok. Saat itu, topeng pertama terbuat dari emas, dikenal dengan istilah puspo sariro (bunga dari hati yang paling dalam) dan merupakan simbol pemujaan Raja Gajayana terhadap arwah ayahandanya, Dewa Sima.

Kesenian ini kemudian terus berkembang pesat saat zaman Kerajaan Majapahit serta masa penyebaran Islam oleh para wali. Tak heran, beberapa dekade kemudian wayang topeng berkembang menjadi kesenian yang sangat populer di Malang. Bahkan, wayang topeng menjadi sebuah kesenian yang identik dengan Kota Malang. Namun, seiring perkembangan zaman, kesenian ini kemudian tergusur oleh arus budaya modern. Kondisi politik pun menjadi penyebab tergusurnya kebudayaan yang bernilai tinggi ini. Saat konflik politik pada 1965, membuat berbagai kesenian rakyat identik dengan LEKRA–organisasi kesenian di bawah Partai Komunis Indonesia. Tak pelak, pentas wayang topeng sempat dilarang di awal pemerintahan Presiden Soeharto. Dengan berbagai latar belakang sejarah itulah, seni topeng wayang dengan aura spritualnya kini hanya tersisa di Desa Kedungmonggo, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang, Jatim. Baca entri selengkapnya »

Tinggalkan komentar

Sejarah Topeng Malang

Topeng Malang adalah sebuah kesenian kuno yang usianya lebih tua dari keberadaan Kota Apel ini. Itulah sebabnya, kesenian ini tak dapat dipisahkan dari perjalanan sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa Timur. Dalam catatan sejarah, topeng telah dikenal semenjak zaman kerajaan tertua di Jatim yaitu Kerajaan Gajayana (760 Masehi) yang berlokasi di sekitar kota Malang.

Kota Malang pada awalnya memiliki cukup banyak pengrajin Topeng Malang, tetapi karena semakin lama kalah bersaing dengan budaya lain menyebabkan sebagian besar pengrajin tersebut tidak meneruskan usahanya. Salah satu pengrajin Topeng Malang yang masih tetap meneruskan budaya tersebut adalah Bapak Handoyo yang memiliki sanggar kesenian Asmoro Bangun. Sanggar Asmoro Bangun terletak di Dusun Kedungmonggo, Kecamatan Pakisaji. Bapak Handoyo meneruskan sanggar tersebut dari kakeknya, Mbah Karimun (Alm) sesepuh kesenian tari topeng khas Malang yang pernah mendapat penghargaan langsung dari mantan presiden Soeharto sebagai seniman pelestari kesenian tradisional. Sanggar tersebut membuat Topeng Malang dan juga pentas tari tentang cerita rakyat khususnya dari wilayah Malang. Keberadaan kesenian tari topeng di dusun ini sekarang masih terbilang cukup mampu bertahan jika dibandingkan dengan komunitas lain yang juga berada di wilayah gunung Kawi dan wilayah kabupaten Malang lainnya, yang letaknya lebih ke arah atas gunung Kawi. Hal ini didukung oleh letak geografis kawasan Kedungmonggo yang relatif mudah dijangkau oleh konsumen kesenian tari topeng karena jaraknya dari jalan raya Malang-Kepanjen hanya berkisar 500 meter ke arah barat.

Seiring berjalannya waktu dan ketertatihan eksistensi budaya tradisional, kesenian ini perlahan-lahan hilang dan berangsur-angsur tergusur oleh arus budaya modern. Hal ini salah satunya dikarenakan kurangnya sumber sejarah yang mencatat sepak terjang kesenian ini secara pasti, sampai pada akhirnya dilakukan pencatatan sejarah oleh Dr. Th. Pigeaud pada tahun 1930an yang menyebutkan bahwa kesenian ini merupakan salah satu pertunjukan tradisional populer khas Jawa yang berada di wilayah Malang. Faktor generasi penerus menjadi faktor utama untuk melestarikan kesenian khas Malang ini, menegaskan keeksisan tari topeng Malang lambat laun mendekati kepunahan. Untuk mengembangkan dan tetap melestarikan salah satu “aset” daerah yang masih dikerjakan secara tradisional tersebut banyak mengalami kendala apalagi jika tidak ada campur tangan dari pemerintah.

sumber : http://malangicon.wordpress.com/2010/05/05/sejarah/

Tinggalkan komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.