Wisata Rumpun Teater Topeng Cirebon

Dalam percakapan sehari-hari, sebutan topeng (kedok=dialek Cirebon) bisa menunjukkan bermacam-macam makna sesuai dengan kata yang menyertai di belakangnya. Pertama, menunjukkan arti sebagai sebuah pertunjukan tari­tarian yang penarinya mengenakan kedok dan sobrah (Jawa: tekes) serta tari-tariannya berlatar belakang cerita Panji. Perkataan: “ana topeng ping kana!” misalnya, berarti di suatu tempat ada pertunjukan topeng. Di Cirebon banyak tari-tarian yang mengenakan kedok namun tidak biasa disebut topeng karena masing-masing telah mempunyai sebutan sendiri, misalnya Wayang Wong kedok, Berokan dan lain-lain. Kedua, menunjukkan arti sebagai profesi seseorang yaitu penari. Misalnya sebutan topeng Giwang, topeng Semut, Topeng Wentar, topeng Sujana, topeng Temblag, topeng Sawitri dan lain-lain. Penari topeng itu sendiri disebut dalang topeng dan jika topeng itu membawakan cerita, orang yang memimpin jalannya cerita itu disebut dalang pematang. Ketiga, menunjukkan tempat daerah asal topeng itu berada. Misalnya sebutan topeng Palimanan, topeng Kalianyar, topeng Losari, topeng Slangit dan lain-lain, adalah topeng yang berada di daerah tersebut.

Dalam kehidupan tradisional masyarakat Cirebon, kesenian topeng biasanya erat kaitannya dengan kesenian wayang (kulit). Di setiap perayaan, perkawinan, khitanan, memitu (mitoni), puput puser, gusaran dan khaul/kaulan dan sebagainya, pertunjukan topeng selalu berdampingan dengan pertunjukan wayang. Siang hari topeng dan malam harinya pertunjukan wayang. Kaitan antara topeng dan wayang memiliki alasan tradisi, bahwa setiap orang yang ingin menjadi dalang wayang yang baik harus juga harus menguasai tarian topeng agar dalam memainkan/menarikan wayang­wayangnya terlihat mantap. Oleh karena itu tidaklah heran jika dahulu banyak dalang topeng yang sekaligus juga dalang wayang. Kemudian tradisi tersebut tidak lagi populer bagi masyarakat Cirebon terutama ketika banyak muncul dalang topeng wanita yang lebih memusatkan perhatiannya pada kesenian topeng saja dan disusul oleh dalang-dalang topeng pria sekarang.

Di kalangan penggarap topeng Cirebon ada anggapan bahwa topeng diciptakan oleh Nurkalam atau Sunan Panggung dari Demak. Anggapan lain menyebutkan bahwa topeng adalah ciptaan Sunan Kalijaga. Dalam hal ini tidaklah mengherankan jika para dalang topeng menyebut-nyebut nama Sunan Panggung dalam doanya ketika is memulai pertunjukannya. Dalam pertunjukan topeng masih terdapat kepercayaan lama yang diwujudkan dalam bentuk sesaji dan pembakaran kemenyan. Bahkan dalang topeng, khususnya ketika is menari, baik dalam sebuah acara tradisional (unjungan/ngunjung, ngarot, sedekah bumi dan lain-lain) maupun dalam acara hiburan perayaan (kawinan, khitanan dan sebagainya) dalang topeng sering diminta berkahnya untuk keselamatan keluarga yang memintanya.

Topeng Cirebon mempunyai peranan yang amat penting, tidak saja bagi kehidupan tradisional masyarakat Cirebon akan tetapi juga bagi kehidupan social-budaya di Jawa Barat, di antaranya adalah sebagai sarana penyebarluasan agama Islam. Sarana pemujaan leluhur; media hiburan dan sumber kreativitas tari.

Pertunjukan topeng Cirebon, dimana pun adanya, mempunyai urutan penyajian yang pada umumnya sama dan bisa dijadikan sebagai cirri pokoknya. Urutan penyajian tersebut yaitu: 1) Topeng Panji; 2) Topeng Pamindo/Samba; 3) Topeng Rumyang; 4) Tumenggung/patih, kemudian dilanjutkan dengan tari Perang Tumenggung vs Jinggaanom ; dan 5) Topeng Klana/Rowana. Kecuali dalam Topeng Panji, setiap penampilan topeng selalu diselingi bodoran (lawakan). Karakter tari­tariannya amat terkait dengan karakter kedoknya, misalnya Topeng Panji berkarakter halus; Topeng Pamindo/Samba berkarakter ganjen (lincah, ladak); Topeng Rumyang berkarakter ganjen (Iincah, ladak) namun tak selincah Topeng Pamindo; Topeng Tumenggung/Patih berkarakter gagah; dan Topeng Klana/Rowana berkarakter gagah kasar.

Di beberapa daerah terdapat urutan penyajian yang berbeda seperti urutan pada umumnya, misalnya di Losari tidak terdapat Topeng Panji dan Topeng Rumyang pada urutan terakhir. Di daerah Indramayu, Topeng Klana ada yang ditampilkan dalam dua bentuk tari, yakni Topeng Klana sebagaimana umumnya dan Klana Udeng. Sedangkan di daerah Subang (Cipunagara), Topeng Rumyang ditampilkan pada urutan terakhir.

Kini topeng Cirebon tidak saja tersebar di pelosok Cirebon (Babakan, Losari, Slangit, Gegesik, Kreo dan lain-lain) akan tetapi juga di daerah lain di luar Cirebon seperti di Indramayu (Kertasemaya, Tambi Kidul, Pekandangan , Juntinyuat dan lain-lain), sebagian kecil Majalengka terutama kecamatan Ligung, dan di Subang terutama di Cipunagara.

Dalang-dalang topeng tua yang kini masih ada hanya tinggal beberapa orang di antaranya Sujana (Slangit); Sutini (Kalianyar); Mutinah, Buniah, Casmi (Gegesik); Tumus (Kreo); Rasinah, Carpan, Eri (Indramayu); Aminah (Subang). Sebagian dari mereka kini sudah tak lagi menari. Sedangkan dalang-dalang topeng tua yang dulu pernah terkenal dan telah lama meninggal dunia seperti Ami, Dasih, Suji, Suparta, Suteja, Sujaya, Tarmi, Sure dan lain-lain.

Dilihat dari pola pertunjukannya secara tradisional serta didasarkan pada motivasi masyarakat penanggapnya, terdapat tiga jenis pola pertunjukan, yakni pertunjukan topeng hajatan/dinaan; topeng dalam upacara komunal (Ngunjung, Ngarot, Sedekah Bumi, mapag Sri dan lain-lain); dan topeng bebarang (ngamen).

sumber : http://disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=297&lang=id

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: